Selamat Datang di Website Resmi Desa Kumejing
Header Background

Profil Desa

Beranda / Profil Desa

Visi Desa Kumejing

"Sesarengan Membangun Kumejing Harapan Baru Kumejing Hebat"

Misi Desa Kumejing

  1. Mewujudkan pemerintahan desa yang religius.
  2. Mewujudkan pemerintahan desa yang melayani seluruh masyarakat di empat dusun dengan pelayanan yang mudah, ramah, dan nyaman.
  3. Mewujudkan pemerintahan desa yang bertanggung jawab, transparan, terbuka, dan bersih.
  4. Melanjutkan pembangunan prasarana jalan poros desa, jalan antar dusun, jalan lingkungan, serta jalan usaha tani (JUT).
  5. Membangun sarana dan prasarana perekonomian serta memperkuat kapasitas kepariwisataan dan pertanian masyarakat.
  6. Menuntaskan pendidikan dasar 12 tahun bagi warga usia sekolah serta menyediakan sarana dan prasarana pendidikan anak usia dini dan pendidikan nonformal.
  7. Memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan fasilitas kesehatan yang memadai serta pelayanan yang cepat, ramah, dan mudah.
  8. Mengelola dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia serta kelembagaan desa.
  9. Memanfaatkan potensi desa sebagai modal pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
  10. Meningkatkan kehidupan masyarakat yang rukun, aman, dan tertib dengan berpegang teguh pada prinsip-prinsip agama dan adat istiadat yang berlaku.
  11. Membentuk komunitas relawan peduli lingkungan dan tanggap darurat bencana.

Sejarah Desa Kumejing

Asal Usul Nama

Awal mula Desa Kumejing berasal dari masa Perang Jawa, saat Belanda menjajah Indonesia. Di tanah Jawa, perlawanan dipimpin oleh Pangeran Diponegoro yang menjadi musuh utama Belanda. Keadaan di kota sangat menakutkan akibat perang. Tidak ada yang tahu tempat mana yang aman atau siapa yang akan menang. Orang-orang hanya takut menjadi korban.

Akhirnya, banyak yang memutuskan mencari tempat di daerah pelosok yang jauh dari keributan, demi keselamatan dan keberlangsungan hidup. Mereka bersembunyi atau mengungsi di tengah hutan. Setelah sekian lama, mereka menolak kembali ke tempat asal dan terus membuka hutan untuk bertahan hidup.

Lima Tokoh Pembuka Desa

Suatu hari, datanglah lima orang ke tempat itu. Kelima orang tersebut akhirnya menjadi pimpinan bagi orang-orang yang ingin bertempat tinggal di sana. Menurut cerita, kelima orang itu memiliki sifat wali, sehingga mereka menjadi pemimpin dalam pembukaan hutan tersebut.

Pada suatu hari, saat kelima orang itu sedang membuka hutan, mereka menemukan kayu yang sangat aneh dan ajaib. Salah satu dari mereka memberi nama kayu itu sebagai kayu meying. Beliau berkata, "Seumpamanya suatu saat di sini menjadi desa, maka nama desa tersebut adalah Desa Kumejing."

Kelima Tokoh Pendiri (Umar Amir):

  • Ja'farsodiq
  • Sayid Sunan Mengkukuan
  • Sayid Payaman/Syarifudin Abduloh
  • Umar Chamid
  • Amir Mahdi

Penjelajahan dan Penamaan Wilayah

Umar Amir memulai menelusuri hutan dari daerah yang tinggi, yaitu bukit yang mirip seperti gunung. Umar Amir memberi nama bukit tersebut dengan sebutan Gunung atau Bukit Indrakila. Di puncak Gunung Indrakila terdapat banyak keajaiban, seperti Tuk Beji Ajaib, pertapaan Arjuna, dan pertapaan lainnya.

Di puncak Gunung Indrakila juga terdapat batu besar yang diberi nama Batu Joggo. Batu tersebut dipercaya sebagai tutup gunung atau dalam bahasa Jawa disebut mempel gunung. Apabila gunung itu tidak memiliki tutup atau sumpel, dipercaya dapat membahayakan orang-orang yang bermukim di bawahnya, yaitu Desa Kumejing.

Tempat-Tempat Bersejarah yang Dinamai:

Dukuh

Bukit kecil di tengah lereng dengan barang ajaib yang harus dijaga kukuh

Pasar Sukomulio

Lembah gunung yang menjadi terminal dan pasar

Wana Sirna

Tempat tinggal raja babi hutan (celeng)

Alas Sikuncung

Hutan di ketinggian sebelah timur

Lubang Ewu

Tempat dengan lubang ajaib yang dijaga Kyai Pletuk

Telaga Melem

Hutan dengan pohon besar berisi telaga jernih dan ikan melem

Uwug Kidang

Tempat kijang banyak minum di sungai

Si Bucu

Bukit terlipat dengan ular besar pemberi alamat kemakmuran

Perkembangan Desa

Lama-kelamaan banyak orang yang datang dan bermukim menjadi warga. Mereka berasal dari Bagelen Purworejo, Jogja, Kebumen, Jawa Barat, dan tempat-tempat lain. Hutan pun terbuka luas dan akhirnya menjadi desa yang diberi nama Desa Kumejing.

Setelah menyepakati nama, mereka melakukan musyawarah dan membentuk gerumbul atau beberapa kelompok:

  • Gerumbul Pekingan - di sebelah timur
  • Gerumbul Trukareya - di tengah (dari kata trukak)
  • Gerumbul Kedungbulu - di sebelah barat
  • Gerumbul Lawang Sari/Mbrondong - paling barat

Sejarah Pemerintahan Desa

Sebelum 1921

Kepala Desa: Jaya Dipa

Kehidupan Desa Kumejing sangat menderita pada zaman penjajahan. Kegiatan masyarakat Desa Kumejing belum berkembang sama sekali.

1921

Lurah: Jaya Reja

  • Mulai diadakan sekolah rakyat (SR) sampai kelas 3
  • Kehidupan masyarakat masih sangat menderita
  • Kebudayaan: merenjan tayub dan kuda kepang
1933

Lurah: Toro

Kehidupan masyarakat masih sangat menderita karena sebagian besar menggantungkan hidupnya dari pertanian. Budaya merenjan tayub dan kuda kepang termasuk penghormatan leluhur Desa Kumejing.

1946–1976

Lurah: Heroni

  • Keadaan Desa Kumejing mulai membaik
  • Jalan Wadaslintang–Kumejing sudah ada meski kondisinya kurang baik
  • Hasil pertanian mulai berkembang
  • Penerapan peraturan Bimas Inmas, keamanan membaik
  • Pendidikan meningkat dari SR 3 menjadi SR 6
  • Ditambah sekolah Islam MBW (Madrasah Wajib Belajar) sampai kelas IV
  • Budaya: kuda kepang, angguk salawatan, pengajian, penghormatan leluhur
1977

Kepala Desa: Sastro Prayitno

  • Kehidupan rakyat bertambah baik
  • Pendidikan meningkat dengan bantuan Inpres
  • Budaya: kuda kepang, janeng, gambus, arab-araban, pengajian, peringatan hari besar Islam
1981–1988

Kepala Desa: Ratmin

Periode Pembangunan Waduk Kedung Selam

  • Masyarakat mengalami guncangan besar
  • 40% warga transmigrasi
  • 50% pindah dari Desa Kumejing
  • 10% tetap bertahan hingga sekarang
  • Ekonomi menurun karena berkurangnya lahan pertanian
  • Banyak warga melakukan urbanisasi ke kota
1990–2002

Kepala Desa: Cholidin

  • Jalan antar dusun Kirangan–Brondong dilebarkan
  • Pembangunan masjid di setiap dukuh
  • Sekolah di setiap dukuh sudah tersedia
  • 1999: Jaringan listrik masuk (dengan banyak kendala)
  • Kegiatan keagamaan: yasinan di tiap dukuh, pengajian rutin tiap Minggu Kliwon
  • Kesenian: kuda kepang, rebana, janeng, gambus
  • Pendidikan: program wajib sembilan tahun dimulai
  • Tantangan: kurangnya lahan pertanian, pengangguran meningkat
2007

Kepala Desa: Wahyu

  • Melanjutkan pembangunan infrastruktur
  • Pengembangan fasilitas pendidikan dan keagamaan
  • Kesenian tradisional tetap dilestarikan
  • Menghadapi tantangan pertanian dan pengangguran
2009

Kepala Desa: Suratno

  • Melanjutkan konsolidasi pembangunan desa
  • Penguatan infrastruktur dan fasilitas umum
  • Pemberdayaan masyarakat di berbagai sektor
  • Pelestarian budaya dan nilai-nilai keagamaan